Sabtu, 08 April 2017

Falsafah Tri Sandya atau Gayatri Mantram


Kiranya ada anggapan bahwa Uvacha tri sandya tidak bermakna, itu sangat keliru adanya. Justru dalam perkembangan umat hindu dan paham hinduisme, gayatri dikatakan peneguh identitas agama hindu.
Tri Sandya adalah roda kehidupan beragama yang menghubungkan refleksi kita dengan Hyang Widhi. Penghubungan tiga kali dalam sehari dilakukan pada pagi-siang dan petang/malam. Saat waktu tiga itulah umat hindu menyatakan berserah diri secara total (bayu-sabda-idep) tingkah laku, ucapan, pikiran kehadapan-Nya. Sandya wakti pagi adalah untuk mengembalikan rasa ego setelah terombang ambing suasana nikmat tidur dan memohon bimbingan menerima hadirnya siang. Setelah mendapat keteguhan hati, sandya kedua ini berisi pernyataan maaf kepada Nya atas segala kekhilafan yang telah kita perbuat selama perjalanan pagi ke siang. Sedangkan sandya (perhubungan) yang ketiga adalah rasa ayubagia atas syukur atas segala limpahan serta karunia Nya yang dianugrahkan kepada kita, dan tetap memohon kewaspadaan memasuki suasana malam. Demikian seterusnya hari berganti hari kita wujud- bangun puja tri sandya kehadapan Ida Sang Hyang Widhi selama hayat dikandung badan.

Gayatri
            Struktur gayatri mantram yang menempati urutan pertama Tri Sandya adalah:
“ OM ” // “ Bhur Bhuwah Swah ” //

“ Tat Sawitur Warenyam , Bhargo Dewasya Dimahi Dhiyo Yo Nah Prachodayat ”
Artinya :
            Oh, Hyang Widhi yang menguasai tiga dunia ini, yang maha suci dan sumber segala kehidupan, sumber segala cahaya semoga Hyang Widhi melimpahkan pada budhi nurani hamba penerangan sinar cahaya Nya yang maha suci.

            Gayatri  menurut para Rsi adalah shabda Brahman atau suara Hyang Widhi. Suara Hyang Widhi adalah weda. Dari pandangan ini, maka gayatri adalah basis yang terdalam dari weda atau sering disebut weda mata (ibu dari semua weda) gayatri memiliki 3 kerangka:
·         OM disebut Pranawashabda;
·         Bhur Bhuwah Swah disebut Mahawyahritis;
·         Tat Sawitur Warenyam disebut mantra;
“Pranawa “ berasal dari kata “Pranu” yang artinya bergetar atau menggetarkan
      Om atau Ongkara yang dibaca “Aum” merupakan sumber dari segala ucapan yang bersifat langgerng sebagai kekuatan Hyang Widhi, kekuatan ini disebut Tri Sakti yaitu brahma fungsi pencipta(utpatti) dengan simbul aksara A.
      A selalu menempati urutan pertama dalam struktur alphabet, misalnya A,b,c,…; dan A,I,u,…, A,na,ca,ra,ka,… dalam sloka weda disebutkan: “Aksaranam A karo’smi…….’ (aku adalah huruf A dari semua aksara)”
      Huruf A pengucapan mulut terbuka lebar, berarti lahir segala materi dunia. Kekuatan yang kedua yaitu wisnu (stiti) dengan simbul U. Sesungguhnya U merupakan bulatan atau elip (OU) yang senantiasa memelihara segala yang ada. Dalam urutan vocal kebetulan berada di tengah: a,i,u,e,o.
      Ciwa sebagai kekuatan Hyang Widhi dalam fungsinya melebur (pralaya/pralina) disimbulkan dengan huruf M, menunjukkan mulut tertutup rapat. Ketiga kekuatan Hyang Widhi yang disimbulkan dengan A U M mempunyai makna dan filsafat sangat mendalam sehingga seluruh mantra diawali dengan OM. Dalam hubungan kenapa munculnya kesadaran ber-tri sandya tiada lain adalah mematrikan OM sebagai penunjuk jalan menuju Hyang Widhi (moksa). Bahkan bagi umat yang merasa ajal telah tiba pun patut dibisikan aksara suci Om-Om-Om berulang-ulang agar teringat terus sampai menyatu dengan Hyang Widhi (menunggal kawula lan Gusti). Hal ini dipertegas oleh sloka weda:
Om ity ekaksaram brahman//

      Wyaharan mam anusmaran//

      Yah prayati tyajan deham//

      Sayati paramam gatim.
Artinya:
      Ia yang menggunakan Om, aksara tunggal brahman dan mengingatkan Aku sewaktu ajal akan meninggalkan jasmani, ia akan pergi menuju tempat tertinggi.
      Mahawyahritis, yaitu kata-kata rahasia yang terdiri: Bhur-Bhuwah-Swah atau Bumi-Atmosfer-dan Surga. Seperti lingkaran lahir, mati dan kelahiran kembali terdapat dalam ketiga dunia ini. Dapat juga dikonotasikan (diarti tambahkan) ke dalam tiga waktu (tri kalam) yaitu waktu lampau, sekarang, dan yang akan dating atau pagi, siang, dan petang/malam hari.
      Tri loka (Bhur Bhuwah Swah) berhubungan erat dengan Tri kalam sebagai berpijaknya Hyang Widhi, serta disangga oleh Sama-Yajur-Atharwa dengan berlandaskan Reg Weda. Dengan demikian melagukan Gayatri berarti mengandung makna mendekatkan diri kepada Hyang Widhi untuk maksud membebaskan diri dari ligkaran lahir, mati, dan lahir kembali.
      Gayatri terdiri dari 24 suku kata dan terbagi menjadi 3 bait yang masing-masing bait ada 8 suku kata:
Tat-Sa-Wi-Tur-Wa-Ren-Ni-Yam//.

Bhar-Go-De-Was-Ya-Di-Ma-Hi//.

Dhi-Yo-Yo-Nah-Pra-Cho-Da-Yat//.
      Dan analisis etimologi timbul pertanyaan, apakah betul mantra memberi perlindungan kepada waladika (pembaca weda).
      Jawabannya harus dibarengi dengan ketulusan ber-tri sandya, dan tidak sekadar Tarik suara keras-keras lewat corong pengeras suara. Yang penting dari ucapan weda ialah:
-          Chanda dalam syair
-          Hymne atau ketukan yang diterapkan dalam sruti, karena mantra Gayatri mempunyai arti:
Tat                       = itu
Sawitur                = yang megnhidupkan, sinar suci yang bersifat ketuhanan.
Warenyam           = yang terutama, memuja
Bhargo                = jernih,sinar/cahaya
Dewasya             = yang Maha Kuasa,sinar Tuhan yang anggun
Dhimahi              = pusatkan cipta, merenungkan, memikirkan, mengingat.
Dhi(yo)                = pikiran, orak, budi.
Yoyonah             = yang itu.
Prachodayat        = keinginan bersujud kepada Tuhan, semoga diberkati.

            Maka mudah-mudahan (aum awighnamastu) yajna sembahyang kita menjadi brahman-brahmana wahanan, atau dengan kidung mantra kita akan dilindungi Brahman.
            Dengan demikian upayakanlah pengucapan mantra itu sesuai dengan chanda, maka akan dapat memberikan kekekalan (moksa), dan menjauhkan kita dari penderitaan. Untuk memperkuat analisis ini, mari hubungkan dengan sloka Weda: Gayatri Chandasam aham …. (…… diantara Chanda Aku adalah Gayatri….) Bahkan kata Gayatri, mengandung makna “ dilindungi bagi siapa yang melagukan ini.”
            Untuk tujuan pembersihan pikiran, Gayatri merupakan doa universal dan bersifat immanent dan transcendent dicine (dapat dipakai oleh seluruh umat manusia dalam berbagai kepercayaan tana memandang daerah dan iklim). Dengan kata lain bahwa mengidungkan Gayatri, kita memohon anugrah untuk membangkitkan, menguatkan, dan menyadarkan kecerdasan. Sehubungan dengan hal ini patut ditempuh hal-hal:
1.      Berpegang teguh pada kejujuran
2.      Tidak risau terhadap suka duka gelombang kehidupan
3.      Mempertahankan kebenaran yang sejati dan kebenaran yang pasti jaya (menang)
4.      Mentaati terus sembahnyang (sadhana)
5.      Senantiasa merencanakan kebajikan keTuhanan berupa japa sahita dhiana (konsentrasi)
Akhirnya barang siapa mengidungkan/melagukan/melantunkan Gayatri secara tekun, akan menghasilkan buah jnana dan merasakan perlindungan sebagaimana janji Hyang Widhi dalam sloka-sloka Weda.
Demikian sedikit mengenai falsafah Tri sandya/Gayatri yang merupakan sarinya weda, atau Gayatri mantra adalah yang paling utama dalam weda.
Terima kasih sudah membaca artikel yang cukup panjang ini, dan saya mohon maaf apabila terdapat kesalahan didalam artikel ini, semoga bisa membantu anda dan menambah wawasan anda :D

Jumat, 07 April 2017

Pengertian Tri Sandya

Halo semuanya kali ini kita akan membahas tentang "Pengertian Tri Sandya" bagi umat hindu Tri Sandya merupakan keharusan dan harus dilakukan 3x sehari, buat anda yang belum mengetahui apa itu Tri Sandya saya akan memberikan beberapa pertanyaan.

Apakah Tri Sandya itu? 

        Tri Sandya berasal dari kata Tri yang berarti tiga dan Sandya berarti sembahyang. Dari hal tersebut kita dapat menyimpulkan Tri Sandya merupakan sembahyang tiga kali sehari setiap hari yaitu PAGI, SIANG, dan MALAM hari.

Apakah Kita Harus Sembahyang Tiga Kali Sehari?

       Mungkin anda akan menanyakan hal ini, jawabannya adalah tentu, sebaiknya kita menepati Tri Sandya tiga kali, tetapi bilamana tidak memungkinkan,cukup sekali saja yaitu pada pagi hari.

Mengapa Kita Harus Bersembahyang?

     Pertanyaan yang terkesan simple namun beberapa dari kita belum tentu bisa menjawabnya, kita bersembahyang dengan tujuan sebagai tanda terima kasih kita kepada Ida Yang Maha Pengasih atau Tuhan Yang Maha Esa,kita berdoa supaya Beliau menunjukkan apa yang terbaik untuk kita dan memandu kita ke jalan yang baik dan benar.

Kepada Siapa Kita Bersembahyang?
        Untuk hal ini khususnya umat hindu, kita bersembahyang kepada Tuhan Yang Maha Esa (Ida Sang Hyang Widhi ) . Beliau yang menciptakan pertiwi,langit dan air, serta seluruh jagad raya ini. Beliau menghidupkan tumbuh-tumbuhan,hewan,dan kita umat manusia, beserta mahkluk lainnya yang berperan penting terhadap jalannya kehidupan di alam semesta ini.

 Bagaimana Cara Kita Bersembahyang?
      Pagi-pagi sebelum matahari terbit kita harus sudah bangun. Sebelum meninggalkan tempat tidur, ada baiknya kita mengenangkan Ida Sang Hyang Widhi sejenak. Kemudian kita harus bangun dengan pikiran menuju kesucian.
      Memang jalan menuju kesucian itu amatlah sukar, tidak seperti makan cabai, tetapi kita percaya, Tuhan Yang Maha Esa akan memberi pertolongan-Nya untuk bisa mencapai apa yang diinginkan. Demikiannlah yang dicanangkan oleh para Rsi. Kemudian kita mandi, lalu berpakaian dengan bersih. Lalu duduk diatas balai(tikar) dengan sikap padmasana/bersila. Bagaimana cara melakukan padmasana? Untuk hal ini anda sebaiknya menanyakan kepada guru agama dan langsung mempraktikannnya, jika tidak bisa kita bisa melakukan sikap duduk biasa. Kalau ada bakarlah dupa dan siapkan bungan sebagai sarana persembahyangan. Sekarang mulailah bersemadi. Bersemadi merupakan pemusatan pikiran kepada Ida Sang Hyang Widhi, lalu lakukan pranayama, pranayama merupakan latihan nafas. Dengan latihan nafas. Dengan pranayama kita bisa memusatkan pikiran kita serta dapat berolah raga paru-paru, olah raga paru-paru itu sangat penting tujuannya adalah untuk mencegah paru-paru kita dari penyakit yang disebabkan kita tidak dapat latihan untuk melakukan pernafasan panjang. Cara untuk melakukan pranayama yaitu tegakkan punggung dan lakukanlah yang bernama puraka. Lalu tutuplah kedua lubang hidung dengan jari tengah dan ibu jari tangan kanan. Menahan nafas selama mungkin (kumbaka), akhirnya lepaskan ibujari dan keluarkan nafas melalui lubang hidung kanan (recaka). Semua ini hendaknya dijalankan dengan tenang dan hati-hati dan selalu ingat untuk mengucapkan mantra GAYATRI sebanyak 3 kali saat melakukan ketiga langkah tersebut. Bolehkah kita melakukan pranayama tanpa menutup lubang hidung? tentu saja boleh sebab lubang hidup ditutup hanyalah untuk orang yang baru belajar tetapi jika bisa menahan nafas dengan baik tidak memakai jari itulah yang paling baik.
       Sesudah melakukan pranayama mulailah melakukan Tri Sandya sebagai berikut:

1. Kara coddhana, yaitu membersihkan kedua belah telapak tangan kanan kiri secara bergilir dalam arti menyucikan dengan mantram pendek sebagai berikut: 
    a. Tangan kanan di atas tangan kiri mengadah diberi mantram:
         OM CUDDHA MAM SWAHA
    b. Ganti dengan tangan kiri di atas tangan kanan mengadah diberi mantram:
         OM HATI CUDDHA MAM SWAHA
2. Kalau mempergunakan asep/dupa diberi mantra OM DUPADIPASTRA YA NAMAH SWAHA.
3. Mengambil selembar bunga, lalu diberi manta OM PUSPA DANTA YA NAMAH
4. Sesudah itu lalu melakukan persembahyangan dengan menempatkan tangan yang sudah mengepit bunga di atas ubun-ubun memuja Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Berikut adalah bait-bait dari Tri Sandya beserta terjemahannya:


Bait I:
Om bhùr bhuvah svah
tat savitur varenyam
bhargo devasya dhimahi
dhiyo yo nah pracodayàt
Bait II:
Om Nàràyana evedam sarvam
yad bhùtam yac ca bhavyam
niskalanko nirañjano nirvikalpo
niràkhyàtah suddo deva eko
Nàràyano na dvitìyo'sti kascit
Bait III:
Om tvam sivah tvam mahàdevah
ìsvarah paramesvarah
brahmà visnusca rudrasca
purusah parikìrtitah
Bait IV:
Om pàpo’ham pàpakarmàham
pàpàtmà pàpasambhavah
tràhi màm pundarikàksa
sabàhyàbhyàntarah sucih
Bait V:
Om ksamasva màm mahàdeva
sarvapràni hitankara
màm moca sarva pàpebyah
pàlayasva sadà siva
Bait VI:
Om ksàntavyah kàyiko dosah
ksàntavyo vàciko mama
ksàntavyo mànaso dosah
tat pramàdàt ksamasva màm

Om Santih, Santih, Santih, Om

Makna dari masing-masing bait Tri Sandya adalah sebagai berikut:
Bait I
Marilah kita pusatkan cipta ke arah kemahamuliaan Tuhan, semoga Ia berikan budhi kita penerangan, dengan sinar cahaya -Nya yang Maha Suci.
Bait II
Narayana (Tuhan) yang menjadi sumber utama dan awal permulaan seluruh alam. Segala ada di dunia, yang telah ada di jaman yang silam dan yang akan datang, seluruhnya itu ciptaan Tuhan, Ia mengatasi segala kesesatan maya, wujud yang tidak perseorangan mengatasi segala kegelapan yang Maha Suci dan tidak terbentuk, yang Maha Kuasa dan tiada yang menyamainya.
Bait III
Ya Tuhan! Engkaulah Ciwa Maha Dewa, Icwara,Parameswara,Brahma Wisna dan Rudra Engkaulah yang disembah dalam weda-weda karena Engkaulan adalah wujud pertama.
Bait IV
Ya Tuhan Hamba-Mu penuh dosa perbuatan Hamba-Mu adalah penuh dosa-dosa dan budhi Hamba-Mu adalah jahat semenjak lahir, segala perbuatan Hamba-Mu penuh dosa. Selamatkan hamba-Mu daripada dosa dan sucikanlah jiwa raga hamba-Mu.
Bait V
Ya Tuhan Yang Maha Esa, ampunilah dosa hamba-Mu, berkatilah segala yang hidup. Ya Tuhan Yang Maha Pengasih, yang memberkati kekal abadi, selamatkanlah hamba-Mu dan bebaskanlah hamba-Mu dari segala ikatan.
Bait VI
Ya Tuhan ampunilah hamba daripada dosa yang dikerjakan oleh hamba, ampunilah hamba dari dosa yang dikerjakan oleh lidah hamba, ampunilah hamba daripada dosa yang dikerjakan oleh pikiran hamba, ampunilah hamba atas semua kelalaian hamba.
Semoga damai di hati di dunia dan damai selalu.


       Selanjutnya bungan itu dibagi menjadi 2 masing-masing ditaruh di atas telinga dengan selimpet, yaitu bunga yang dipegang ditaruh pada telinga berlawanan.
       Ini bermakna, mengingatkan atau bersumpah kepada Ida Sang Hyang Widhi bahwa kita tidak lagi melakukan kesalahan-kesalahan yang tidak disengaja.
       Kalaupun jika terjadi juga perbuatan-perbuatan salah yang tidak kita sadari/tidak disengaja, misalnya berbuat atau bertingkah laku yang keliru,berpikir,berkata yang salah dan tekebur, amak Ida Sang Hyang Widhi segera akan memberi peringatan atau nasehat.
      Peringatan atau nasehat ini kadang berupa kata-kata yang jelas dapat didengar oleh telinga atau alamat-alamat/tanda-tanda yang dapat di dalam impian.

Demikianlah artikel ini saya sampaikan kita harus taat melatih bathin untuk berhubungan serta mengingat Ida Sang Hyang Widhi. Serta saya mohon maaf jika terlalu panjang dan saya berharap dengan beberapa daftar pertanyaan dan jawabannya bisa memuaskan rasa ingin tahu anda. Jadi terus mencari refrensi dan jangan pernah puas dengan 1 referensi saja :D

keyword: Arjuna Digital, Saya Hindu, Hindu Hebat, Hindu Keren

Usada Kuranta Bolong (Part 1)

Halo dan selamat hari raya galungan saya ucapkan, kali ini saya akan memberikan sebuah artikel tentang Usada Kuranta Bolong. Apa itu? Usada Kuranta Bolong merupakan terjemahan dari Lontar Kuranta Bolong isinya tentang kesehatan dan pengobatan tradisional, dan artikel ini akan dibagi menjadi beberapa part atau bagian mengingat isi dari lontar aslinya yang begitu banyak. Tidak usah menunggu lama lagi saya akan berikan beberapa terjemahannya.
1. Obat bayi yang tulang tengkoraknya renggang (dalam bahasa balinya belahan/belah)
bahan obatnya: daun canging yang di tengah-tengah 11 lembar, padang lepas 11 batang,adas, tempelkan pada renggang itu setelah ditumbuk.
Dan lagi bahanya : daun canging yang ditengah-tengah 7 lembar,padang lepas 7 batang, adas 7 biji ditumbuk, dibecakkan.
2. Obat bayi yang tengkoraknya-tengkoraknya renggang
bahannya: kulit tri bulu lus,ketam batu yang jantan,jamur(cenana) keluping, daun kangkang yuyu 7 lembar, semua dibakar sampai hangus, abunya dipakai menempeli penyakitnya diberi tanda tambah (tampak dara).
3. Obat penutup bayi yang tulang tengkoraknya renggang
bahannya: nagasari,sulatri,camolung,pucuk daunnya masing-masing 7 pucuk,padang lepas,selasih merik,masing-masing 9 pucuk dicampurkan dengan kelabet 9 biji, ditumbuk ditempelkan pada ubun-ubunnya
4.Obat tulang tengkoran bayi yang renggang,untuk bedak(param) di dahinya
bahannya: nagasai,sulatri,camolung masing-masing pucuk daunnya, akar canging yang muda,dicampur dengan kelabet ditumbuk,sesudah ditumbuk ditempelkan pada penyakitnya, dibedaki sampai dahinya. Bedak badannya, berbahan : pohon dadap yang masih muda dikerik, gamongan kedis, dibedakkan pada badannya setelah ditumbuk. Dan bedak pada kakinya, berbahan : buah siri, mesui,dibedakkan setelah ditumbuk.
5. Obat sakit sarab aingin,gembung perutnya
bahannya: daun canging,daun adas,bawang merah,sembur perutnya.
6. Obat sakit sarab angin dan sarab api, kelihatan merah orang yang sakit
bahannya: daun waluh pahit,daun sunting-sunting,daun ketepeng,bawang merah, diminum setelah ditumbuk dan disaring, ampasnya dibedakan.
7. Obat sakit mendadak panas dan pingsan
bahannya: daun uku-uku 3 pucuk,pulet pipih 3 pucuk, setelah ditumbuk, ditempelkan ke ubun-ubunnya, lagi bedaknya bahannya: daun dadap,yang kuning, kencur,ditumbuk dan dibedakkan.
8. Obat bayi yang batuk kiningan
bahannya: daun belimbing besi,jangu,bawang putih, disemburkan di badannya.
9. Obat bayi cekehan (batuk-batuk)
bahannya : daun pancarsona,diris-iris,dicampur dengan kelapa yang dibakar,bawang merah,bungkus dengan daun pisang lalu di tambus,setelah masak dibiarkan semalam, besok paginya diperas dan disaring, dan diminumkan.
10. Obat sakit muntah- muntah
bahannya: kunir warangan,maja keling, ketumbar, garam, terus ditumbuk dimasak,setelah itu disaring lalu diminum.
11. Obat muntah mising
bahannya: gamongan,musi,ditumbuk,setelah diperas dan disaring, lalu diminum.
12. Obat sakit mising
bahannya: kulit kebau dibakar sampai hangus,ketahgajih,bawang dibakar,setelah ditumbuk dan disaring,diminum. Selain itu untuk sakit ini dapat menggunakan bahan lain : kulit pohon juwet lunak, adas, ditumbuk dengan air panas mendidih, diminum setelah disaring. Lagi ada bahannya: daun belimbing besi,hari bawang, diremas diminum setelah diperas dan disaring. Lagi ada bahannya: kulit tuwi putih asam,adas,ditumbuk disaring lalu diminum. Dan untuk bedaknya bahannya: kulit pohon buni tai, bawang adas, ditumbuk dan dibedakkan di bawah pusarnya.
13. Obat sakit batuk
bahannya: akar ketepeng, padang tampak liman, kelapa dibakar, soka natar sakawit, jika orang batuk-batuk,dicampur dengan bangle sedikit akar kecemcem,kesuna jangu,semua tambus setelah masak,diminumkan jika sudah ditumbuk dan disaring.
14. Obat sakit mencret
bahannya : kulit buah delima, beras merah, dicampur adas, dipanggang dibedakkan pada perutnya.
15. Obat sakit mejen
bahannya: akar bentenu, sampai dengan lublubnya(kambiumnya),bangsing(akar gantung),kasabsab yang muda,santan,gula, bawang dibakar, diminum setelah ditumbuk dan disaring, dan bedaknya daun ketimun, adas,dibedakkan pada perutnya, sampai kebawah pusarnya, setelah ditumbuk, lagi bedakknya daun ketepeng,adas,ditumbuk,dibedakkan diperutnya sampai kebawah pusarnya.
16. Obat perut panas
bahannya: lublub kumari,bawang adas,ditumbuk dibedakkan di perut
17. Obat sakit perut mangkak
bahannya: daun pepe,semanggi gunung, kunir, kemiri, bawang merah, bila penyakitnya keras bahan tersebut dapat dicampur dengan empol pandan ditumbuk, diminum sesudah disaring.
18. Obat sakit mata bengkak
bahannya: air susu ibu diteteskan di matanya.
19. Obat sakit gelisah serta ngaliep
bahannya: daun canging yang ditengah-tengah,padang lepas,kulit telur ayam,ditumbuk dan dibedakkan pada badan.
20. Obat tubuh gatal
bahannya: daun cemara,lengkuas,ditumbuk dibedakkan, dan lagi bahannya: daun nangka yang kuning,lengkuas, ditumbuk dibedakkan.


Sekian dulu untuk artikel ini. Silahkan untuk mengunjungi part2 nya :D

Rabu, 01 Juli 2015

Kumpulan Ebook Mengenai Kebudayaan Bali

Halo semuanya kali ini saya akan posting tentang kumpulan ebook yang mengenai kebudayaan bali. Kenapa saya posting tentang ini ?, ini karena saya ingin membuat para pembaca di blog ini wawasannya semakin luas dan juga bisa melengkapi artikel yang telah saya buat sebelumnya, Berikut linknya :

1. http://goo.gl/wp0TXW
2. https://goo.gl/c6fuWO
3. http://goo.gl/EwZjeO
4. http://goo.gl/CIC3oh
5. http://goo.gl/1odtTd

Semua Ebook yang telah saya beri saya kumpulkan dari beberapa sumber seperti dari kembikbud bali dan web pemprov bali. Dari link yang ada di atas saya berharap bisa menambah wawasan anda ini adalah link yang sudah saya kumpulkan sejak lama :D jadi semoga bermanfaat.

Jumat, 26 Juni 2015

Rerajahan Beserta Contoh Rerajahan

Rerajahan

Rerajahan pada hakekatnya merupakan budaya Hindu Bali, sebagai suatu produk local genius. Hal ini dapat dilihat pada upakara panca yadnya, sarana pengobatan, ilmu penengen dan ilmu pengiwa. Antara rerajahan, tantra dan mantram memiliki suatu keterpaduan yang sangat erat dan saling mendukung di dalam membangkitkan kekuatan magis sesuai dengan kepercayaan dan keyakinan masyarakat bali.

Rajah juga sama dengan tatto, namun dalam konteks yang berbeda. dimana rajah atau rerajahan tidak sembarang gambar atau huruf yang dapat digambarkan. Dalam dunia rerajahan ada pakem atau aturan tersendiri bagaimana dan dimana sesuatu bisa di suratkan/dirajah dan sebagainnya.
Dalam kehidupan beragama di Bali rerajahan bukanlah hal yang asing lagi, dari manusa yadnya sampai Dewa Yadnya rerajahan dipakai oleh para pemangku dan Sulinggih. seperti pada saat upacara bayi 42 hari; rerajahan dituliskan pada pelapah kelapa, saat Melapas rumah atau Merajan/pelinggih rerajahan dipasang didepan yang sering disebut ulap-ulap.
Lalu apa fungsi rerajahan...???
  1. Sebagai serana untuk keselamatan sekala niskala.
  2. sebagai benda penangkal hal-hal negatif.
  3. Sebagai penjaga/tumbal/pengijeng untuk tujuan tertentu
  4. sebagai karya seni yang magis dalam hal tertentu, sesuai dengan kebutuhan dan tujuan pengguna.
  5. Sebagai jimat pelindung, kekebelan,dan lainnya sesuai dengan tujuan dan kebutuhan pengguna.
  6. Sebagai pengurip suatu benda/serana tertentu.
Dimana saja rerajahan dapat dirajah/ditulis..???
Rerajahan memerlukan serana, dimana tergantung tujuan dan fungsi dari rerajahan tersebut, biasanya rerajahan dapat dilakukan pada;
  1. kertas biasa,
  2. Kain tertentu.
  3. peripih ; emas, tembaga, selaka, kuningan dll.
  4. daun lontar.
  5. benda - benda tertentu sesuai tujuan ; seperti telebingkah, kertas ulam taga, tiing empet, tiing gading, kelupih, Bata, batu, Paras, kayu dan lainnya.
Rerajahan dalam pembuatannya bukan sembarang dirajah melainkan harus memperhatikan "dewasa ayu" dan persiapan yang matang. Rerajahan ini biasa digunakan untuk JIMAT.

Berikut beberapa contoh dari Rerajahan :

  1. RAJAH "LINGGA BUANA", dirajahkan pada kepingan perak, sebagai tumbal penjaga pekarangan, yang melindungi jiwa keluarga, amat baik dipakai jimat, agar dijauhkan dari segala macam penyakit, dibuatkan sesajen seadanya.
  2. RERAJAHAN "Bhuta Totok" ini tumbal, bahannya tembikat/telebingkah digambar seperti ini, dipendam diperbatasan setiap pondok/rumah, bila ada pencuri ayam dan segala yang diambil, tidak minta kepada "Bhuta Totok", mengakibatkan si Pencuri itu sakit mising dan hingga bisa sampai mati.
  3. RERAJAHAN "Rajah Berare" ini penolak leak (ilmu hitam), bahannya : Putik kepala/bungsil, digambari "Berare" lalu ditanam ditempat orang sakit, disiram dengan air bersih setiap hari sebagai penjaga sang sakit atau pengrasarat.
  4. Rajah "Sanghyang Ganga Osah", dirajahkan pada kepingan timah, dipakai jimat untuk memberikan ketenangan dan orang yang jahat kepada kita, takut dan menjauh.
keyword: Arjuna Digital, Saya Hindu, Hindu Hebat, Hindu Keren

Kamis, 25 Juni 2015

PKB (Pentas Kesenian Bali) XXXVII 2015

Pentas Kesenian Bali atau yang sering disingkat menjadi PKB adalah suatu pagelaran yang diadakan oleh dinas kebudayaan provinsi bali yang bertujuan untuk mementaskan kebudayaan bali dan memperkenalkannya kepada generasi muda sekaligus menjadi objek wisata. Pagelaran ini dilaksanakan sejak setahun sekali di art centre mengambil tema tentang “Jagaditha : Memperkokoh Kesejahteraan Masyarakat“. Ini merupakan tahun terakhir untuk tema payung “Segara Giri” yang sudah dipakai sejak Pesta Kesenian Bali XXXIII tahun 2011.
Artinya, untuk 5 tahun mendatang, Pesta Kesenian Bali akan memiliki tema payung baru yang kemungkinan akan didiskusikan pada akhir-akhir penyelenggaraan PKB 2015 ini.untuk logo PKB sudah bisa dilihat di awal paragraf.
Dalam pagelaran ini banyak sekali acara yang disuguhkan dan juga stand - stand yang berdiri di beberapa tempat yang terdiri dari stand kesenian sampai stand kuliner. Pagelaran ini akan digelar sampai tanggal 11 juli yang pembukaannya pada tanggal 11 juni 2015 sekitar 1 bulan. Jadi jika anda ingin berkunjung jangan lupa untuk menyaksikan acara kesenian dan stand - stand yang ada, selain itu bukan hanya wisatawan bali dan luar bali saja melainkan wisatawan dari negara lain ikut datang berpartisipasi dalam pagelaran ini. ini beberapa gambar yang telah saya ambil saat mengunjungi PKB.






 Nah PKB ini saya rasa jauh lebih baik dari sebelumnya karena selain ada perubahan pada stand juga tidak bayar tiket alias gratis tis tis... :D jadi bikin saya semakin semangat untuk berkunjung ke PKB ini. Saya sudah berkunjung bagaimana dengan anda ?, saya tunggu anda di PKB, tapi sebelum kesana kurang lengkap tanpa jadwalnya nih wahh kebetulan saya punya jadwalnya jika anda ingin mengunduhnya silahkan di bawah.

Download Disini (server bakulfile)
Download Disini (server dropbox)  
N.B. Jadwal Ini terkadang bisa berubah karena tergantung dari dinas kebudayaan provinsi bali

jadi kalau ingin dapat jadwal yang tetap silahkan datang langsung ke art center dan ada pos yang menyediakan denah dan buku yang berisi jadwal PKB (tenang semuanya gratis kok :) jadi gk takut lagi semoga pengalaman saya ini bisa menambah semangat anda untuk ikut berpartisipasi dalam pagelaran ini. Dan untuk warga bali harusnya bangga dengan diadakannya pagelaran ini. Saya tentunya merasa bangga dengan diadakan pagelaran ini.

Refrensi : balitaksu.com , tribunnews, website resmi provinsi bali

Selasa, 23 Juni 2015

8 tanda yang sudah berlaku menurut kepercayaan orang bali

8 Tanda yang sudah berlaku menurut kepercayaan orang bali 


Sawen - sawen (tanda - tanda) yang sudah berlaku menurut kepercayaan orang bali/turun temurun. Percaya atau tidak, tidak dipaksakan. Sebaiknya, cobalah penulis hanya memberi saran itu sisanya terserah anda.

Berikut Sawen atau tanda yang berlaku turun - temurun di bali :

  1. Sekerat kayu yang dibuat sebagai kemaluan orang laki serta digantungi dua buah tempurung seakan - akan biijinya, itu guna penolak penyakit ayam dan hewan lainnya.
  2. Daun ""Sambelung" dicorak dengan kapur, digantung ditembok pintu pekarangan perlunya untuk penolak penyakit ayam
  3. Seekor ayam yang mati lantaran diserang oleh penyakit, lantas diambil kulitna serta digantung dimuka pintu pekarangan, perlunya juga akan penolak penyakit ayam.
  4. Kulit telur ayam yang baru menetas, lantas ditusuk dengan lidi yang ujungnya dicocokkan lombok atau bunga raya serta diletakkan di pintu pekarangan, perlunya supaya ayam yang baru menetas itu jangan disambar gagak atau burung elang.
  5. Pangkal pelepah nyiur dicorak dengan kapur berupa manusia ditaruh ditembok pintu luar perlunya penolak penyakit hewan.
  6. Tempurung berlobang tiga, yaitu yang dua dimisalkan mata dan yang satu dimisalkan mulut, dan digantung disebelah muka pintu pekarangan atau di dapur, perlunya penolak penyakit hewan.
  7. Bendera putih kecil bergambar, "Batara Gana" bertangkaikan bambu kuning / gading, yang disertai dengan saji - saji, yang diletakkan diatas para - para pada tiap - tiap pintu, guna penolak penyakit manusia.
  8. Kain putih bertulis "Sanghyang Taya" dipasang dimuka atas pintu pekarangan, perlunya juga akan penolak penyakit manusia.
Baik sampai disini untuk postingan saya kali ini tapi ingat, cara diatas boleh dicoba jika anda mau penulis tidak mengharuskan karena itu adalah kepercayaan anda sendiri.Tunggu postingan saya selanjutnya :D.